tepatnya hampir 2 minggu yang lalau aku pulang dari cibinong setelah sebulan penuh Praktek Kerja Lapang (PKL) di BAKOSURTANAL sono… sampainya di malang agenda her-registrasi MABA(mahasiswa basi) gue jalanin. Registrasinya seh gampang cuman sayang semester ini gak bisa ambil 24 SKS karena ada mata kuliah yang tiba2 bentrok dan terpaksa harus menunggu semester ganjil berikutnya untuk diambil.. hiks… mau cepet lulus aja susahnya minta duit… hehehe…
Lelah seharian ngurus registrasi aku nongkrong aja di parkiran motor belakang gedung kampus, ada banyak aasan kenapa nongkrong disitu enak :
1. tempatnya cozy walau bagi sebagian besar kaum hawa tempat itu tidak lebih dari bangku2 yang terbuat ala kadarnya untuk tempat kongkow gak jelas para lelaki. Baik mahasiswa, dosen, pegawai universitas dan tentunya tukang parkir.
2. Di tempat ini tersedia bacaan gratis yang menambah wawasan alias KORAN
3. Setiap orang disini bebas dari tingkatan besar gaji samapi umur bisa bertukar kata kepada sesama manusia selama topik masih nyambung walaupun komunikasi berjalan secara wireless (tanpa kabel, ya iyalah…)
Pak Eko sang penjaga area parkir nawari aku untuk main catur versus beliau. Aq sih oke2 aja, apa salahnya main catur. Sekalian ngetes kemampuan bermain caturku yang tergolong …. jangan disebut dah.
“Dam, awakmu iso main skak a?” [dam, kamu bisa main catur]
“Iso pak, pokok aturan dasare kan durung berubah kan?” [bisa, kan aturan main catur belum berubah]
“Ayo jajal, kemampuan”
Selama main neh, 3 kali ronde kami lalui dan hasilnya adalah adam mengalami menang sebanyak 0 kali, dalam benakku “Astaugfirullah, mahasiswa ilmu komputer kalah main catur sama tukang parkir gyahahahaha”. Ternyata IQ dan IPK tidak bisa menolong kalau masalah ini, pengalaman ternyata lebih mendukung.
“Wah piye kon dam? kalah thok, kene tak ajari” [gimana loe dam, kalah mulu, sini tak ajarin]
“Inggih guru, murid nyuwun petunjuk” [iya guru, murid mohon petunjuk]
“Sak iki perhatekno aq main karo mas iki, pikiren carane. Awakmu lak pinter a” [sekarang perhatikan saya main sama mas ini, pecahkan caranya. Kamu kan pinter]
“Sendiko guru” [iya guru]
Setelah diamat-amati ternyata main catur itu bukan seperti yang aku bayangkan yaitu selalu offensif dan mikirin cara efektif bunuh pion2 lawan. Ternyata catur itu berjiwa untuk bertahan, bertahan dari serangan yang ada. Seperti bendungan yang mencegah air bisa lewat begitu saja. Setiap langkah awan harus dicermati dan diblokir pergerakannya, tak terkecuali. jadi catur itu bermain untuk menahan serangan lalu mematahkan serangan secara efektif. Kita harus melawan hawa nafsu, nafsu untuk membunuh lawan2 dan harus konsentrasi untuk menjaga setiap prajurit yang kita punya, bukan mengorbankannya begitu saja. Trik pengecoh pun diperlukan.
Dalam dunia nyata ternyata tidak jauh beda dari apa yang ada di papan catur, kita harus bertahan atas segala sesuatu yang kita dapat. Entah itu cobaan berupa dikasih temen duren montong sekarung atau kelaperan karena gak bisa makan siang lantaran uang saku terlambat datang bulan hehehe….