::- Muda dan sekolah (Chapter 1)
Masa-masa paling indah, masa muda di sekolah…… ga salah jika salah satu pencipta lagu di Indonesia mengatakan hal yang demikian begitu halnya dengan para sineas yang membangkitkan perfilman di indonesia ini. Puluhan bahkan ratusan lagu dan film yang mengadaptasi berbagai kejadian yang ada di sekolah, seluk beluk kehidupan remajanya mulai dari A sampai Z semuanya di ekspose oleh dunia perfilman. Anak muda dan dunia sekolah saat ini bukan pemandangan yang kurang wajar di kalangan masyarakat. Mungkin yang kurang wajar ya jikalau ada anak muda yang ga sekolah, well banyak alas an untuk hal yang demikian namun kalau dibahas panjang lebar ntar ada yang bilang “oh… help my eyes….”. Berbagai macam dunia anak muda terdapat di sekolah, mulai yang demen baca komik naruto sampai yang doyan ama fisika. Di sekolah anak muda mengenal kebudayaan, mengenal kalau apel itu jatuh dari pohon karena adanya gravitasi bumi dan tertangkapnya Pattimura karena takdir semata. Di sekolah kita dikenalkan dengan pergaulan antara siswa dan siswa yang lain baik itu cewek ataupun cowok semuanya gabung jadi satu, anak pejabat sampai anak tukang becak bisa jadi masuk sekolah yang sama. Biasanya anak tukang becak jauh lebih pinter daripada anak pejabat atau konglomerat, kata guru ane sih lantaran anak tukang becak itu udah miskin dan pengen ngerubah hidupnya dengan belajar yang pinter lalu dapet kerjaan yang jauh lebih layak bagi keluarganya sehingga dia bisa ngangkat derajat keluarganya, believe it or not that’s the truth.
Muncul pertanyaan apakah kuliah itu juga termasuk sekolah ? apakah dosen itu sama dengan guru ? menurut saya antara sekolah dan kuliah adalah sama dan begitu halnya pula guru dan dosen. Walaupun sebagian besar anak kuliahan ga mau dikatakan anak sekolahan, malu katanya…. Malu dianggap masih kecil dan bau kencur dan para dosen juga menolak jika disamakan dengan para guru soalnya guru ga bisa ngobyek selain korupsi sedangkan dosen bisa keduanya yaitu ngobyek dan korupsi. Well then, that’s not a big deal.. sebagian besar masyarakat beranggapan kalau sekolah itu untuk dapet ijazah dan kemudian bisa diterima bekerja di tempat yang bonafide gajinya juga bonafide dan serba bonafide yang lain. Bagaimana jika saya berpendapat bahwa orang tua di Negara ini (sebagian besar tentunya) mencetak anak-anak mereka untuk menjadi mental pekerja, sekolah di Negara dini menjadikan anak didiknya menjadi para pekerja. Sekarang saya bertanya kepada anda-anda sekalian pernahkah anda di ajarkan untuk menjadi kreatif dan selalu dipacu agar kreatifitas kita dikembangkan dan diberi dukungan ? kecuali pada masa playgroup dan taman kanak-kanak saya rasa tidak. Apakah ini proses menuntut ilmu yang baik ? kami ini anak muda yang selalu mempunyai dan menciptakan ratusan bahkan ribuan ide-ide yang mungkin terdengar gila seperti halnya ada orang yang mengatakan bahwa terbang seperti burung adalah hal yang mustahil bagi manusia 500 tahun yang lalu. KREATIFITAS bukanlah hal yang bisa disepelekan begitu saja HIDUP KREATIFITAS !!!! bukankah imaginasi lebih berarti daripada sekedar ilmu pasti ? waduh kalo begini bisa bisa Negara ini akan mencetak Negara pemipi dong !!! segalanya harus jalan secara seimbang antara imaginasi dan ilmu pasti. HIDUP KREATIFITAS !!!!
Anak muda dan sekolah, salah satu yang membuat para orang tua menyesal dan melakukan tindak criminal. Nothing in this world are free, bahkan bernafaspun kita harus bayar sampai ada yang mengatakan “lahir gratis, kena wajib pajak sampai mati”. Bahkan pepatah itupun juga salah karena jaman sekarang untuk melahirkan saja kita butuh diuit minimal 500 ribu rupiah. Supaya sang anak bisa sekolah tak jarang kita jumpai pada siaran berita baik itu di media cetak atau di media televisi bahwasanya terdapat orang tua yang tertangkap basah mencuri sesuatu dikarenakan sang anak belum bayar uang SPP(bagi yang ga tahu SPP, SPP itu Sumbangan Pembangunan Pendidikan yang lebih mirip seperti iuran wajib yang kita berikan ke sekolah setiap bulan sebelum tanggal 10). Subnahallah, cinta sang orang tua terhadap anaknya hingga beliau mau saja menaggung dosa agar anaknya tetap sekolah. Nah loh, selama ini udah sekolah yang bener belom ? Bisanya cuman nembak cewek-cewek cakep doang , ceweknya juga tidak henti-hentinya memprovokasi kaum cowok untuk menembakkan panah asmara. Pernah ada yang bilang kepada saya kalau kualitas sebuah sekolah tidak dilihat dari lulusannya melainkan produk-produk yang ditawarkan sekolah itu, diantaranya adalah komoditi cewek-cewek cantik hehehehe…. “Oh God… that’s what I go to school for” yah beginilah bila niat di hati sudah berubah yang mulanya pamit berangkat sekolah cari ilmu jadinya berangkat sekolah mau cari cewek, begitu pula dengan yang perempuan alias para cewek berhentilah memprovokasi kami yang haus akan cinta dan kasih saying hiks. Bagaikan garam, kalau di sekolah kita ga mengeyam pendidikan asmara maka sayur asem rasanya ga bakal gurih di lidah.
Sebenarnya sekolah itu apa seh ? Pendidikan apa yang seharusnya kita dapet di sekolah ? Orang pinter pasti berawal dari sekolah biar itu sekolahan yang dibilang mas Tukul KATROK atau sekolah swasta yang bermutu tinggi tempat anak konglomerat biasa mengenyam pendidikan. Salah seorang guru pernah bercerita kepada saya kalau beliau sangat menginginkan anak sekolahan itu punya akhlak yang baik, soalnya apa ga malu sama wong ndeso yang udik, katrok de el el tapi akhlaknya two thumbs up alias 2 jempol man…. Bukan hanya rasa malu yang harus kita miliki namun juga rasa sadar akan pendidikan, sekolah bukanlah soal gelar saja, gelar bisa dibeli tapi tapi ilmu ga bisa. Mungkin terdengar seperti petuah dari leluhur kalau saya mengatakan bahwa ilmu atau pendidikan itu untuk meningkatkan derajat manusia dimata Tuhan. Manusia jaman sekarang sudah ga mau lagi diumpamakan sama sebatang tanaman padi yang makin berisi makin membungkuk di hadapan orang lain, di hadapan masyarakat bahkan di hadapan tuhan. Di jaman Sci fi ini manusia itu harus jadi gedung pencakar langit yang berdiri tegap makin kokoh dan makin tinggi lebih bagus. Apakah seperti itu hasil dari pendidikan ?